Sabtu, 15 Februari 2014



Banjir Jakarta, Tumpukan Masalah Ibu Kota


Warga Jakarta menghadapi musibah besar tatkala banjir melanda seluruh wilayah Kota Jakarta, dan melumpuhkan segala akses.
Tak hanya layaknya banjir empat hari terakhir yang dialami oleh beberapa titik, wilayah yang memiliki daya dukung lingkungan lemah, banjir satu ini terbilang hampir merata. Kawasan Bundaran HI di jantung Jakarta serta Istana Negara pun tidak luput dari kepungan banjir. Dalam sekejap, status Jakarta darurat banjir diberlakukan hingga sepuluh hari ke depan.
Hujan turun sejak malam hari beranjak subuh, dengan intensitas yang tinggi disertai petir. Peringatan dini mulai disampaikan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada pukul 08.00 WIB.
Namun cuaca ekstrem tidak bisa terus disalahkan, menurut sejumlah pakar di beberapa bidang, banjir Jakarta merupakan gabungan dari faktor cuaca ekstrem dan lebih-lebih, faktor kompleksitas Jakarta.
Jika dilihat dari curah hujannya pun, curah hujan pada periode Januari 2013 lebih rendah dibanding curah hujan saat banjir Jakarta tahun 2007 lalu. Artinya, situasi ini terjadi melibatkan masalah penataan air dan penataan ruang. Tata ruang Jakarta butuh pengendalian yang berorientasi antara lain pada kepadatan populasi dan pemisahan area.
Secara geografis, Jakarta adalah kota yang berada di delta dan rentan terhadap banjir. Ahli hidrologi di Pusat Studi Bencana UGM Yogyakarta Sudibyakto, menjelaskan, banjir meningkat baik frekuensi maupun intensitasnya oleh karena kerusakan lingkungan kian parah.
"Kapasitas tampung Sungai Ciliwung sudah terlampaui, akibat pendangkalan dan adanya penambahan intensitas air permukaan. Sumbangan air limpasan dari sistem jalan tol juga sangat signifikan. Koefisien aliran di jalan tol mendekati 90 persen," kata Sudibyakto.
Arsitek dan urban planner Marco Kusumawijaya dari Rujak Center for Urban Studies (RCUS), mengetengahkan bahwa permasalahan aliran air di permukaan terus bertambah karena tanah tidak mampu lagi meresapkan air.
"Kami usulkan pendekatan lestari, yaitu perbaikan lahan di hulu dan hilir, supaya menyerap air lebih banyak. Ketimbang memilih pendekatan infrastruktur dengan membuat saluran dan kanal," ujarnya.
Kapasitas masyarakat
Di samping itu, aspek budaya masyarakat menjadi satu pekerjaan rumah lagi yang perlu dibenahi.
Banjir menggenangi kawasan Bundaran HI, Jakarta, Kamis (17/1). Para pekerja di sekitar lokasi terpaksa dievakuasi menggunakan perahu karet. (Gloria Samantha/NGI).
Hery Harjono, Direktur Asia Pasific Center for Ecohydrology (APCE)—perwakilan lembaga untuk UNESCO yang dibiayai pemerintah di bawah LIPI, yang secara terpisah dijumpaiNational Geographic pada sebuah kesempatan di Jakarta pada awal minggu ini, menyatakan, "Pembangunan kapasitas masyarakat di segala lapisan haruslah ditingkatkan untuk mengurangi risiko bencana banjir."
Hery mengingatkan, persepsi masyarakat 
dalam menanggapi bencana kerap menjadi hambatan di lapangan. Contoh, banyak masyarakat tidak mau mengevakuasi diri bila bencana sudah terjadi, apalagi pindah dari huniannya yang rata-rata rawan banjir tersebut. Kalau saja pembangunan kapasitas masyarakat tidak mendukung, maka segala skenario penanggulangan bencana akan percuma.
Ia juga berpendapat teknologi dan pengetahuan mampu mengatasi banjir Jakarta, meski tidak mudah dalam jangka waktu pendek. "Sekarang masalahnya sudah menumpuk jadi satu. Tapi saya yakin bisa direhabilitasi, diselesaikan, dengan upaya tinggi melalui edukasi yang baik, kebijakan pengelolaan sumber daya air yang baik."
Masyarakat Jakarta serta-merta diimbau menuju kepada masyarakat tangguh bencana, yang antisipatif dan adaptif menghadapi bencana. Terutama banjir yang terus berulang di saat puncak hujan sampai setumpuk masalah dapat diatasi.

Usaha Antisipasi Banjir
 Polda Metro Jaya menyiapkan sejumlah perahu dari jeriken untuk mengantisipasi kemungkinan banjir pada puncak musim hujan di Jakarta. Disiapkan pula ratusan kano untuk patroli polisi.
Kapolda Metro Jaya Inspektur Jenderal Putut Eko Bayuseno mengatakan, persiapan antisipasi banjir oleh polisi sudah hampir selesai. Hari ini ia mengecek peralatan bantuan untuk membantu masyarakat mengatasi banjir dan melakukan pertolongan evakuasi.
"Sudah hampir seratus persen siap. Kami siap melakukan pengamanan dan membantu masyarakat yang kemungkinan terkena banjir," ujarnya di Mapolda Metro Jaya.
Pengecekan itu untuk memastikan kondisi perahu karet dan peralatan pompa air. Selain itu, Polda Metro juga menyiapkan perahu yang terbuat dari jeriken. Putut mengklaim perahu ini antibocor dan karena ukurannya kecil, maka dapat masuk ke gang-gang permukiman berukuran kecil.
Selain perahu, Polda Metro juga menyiapkan dua jenis kano. Kano yang dapat dipakai oleh satu orang berjumlah 115 kano dan kano yang muat tiga orang sebanyak 105 unit.
"Ini akan kita optimalkan penggunaannya, terutama patroli daerah banjir. Jadi dua atau tiga anggota gunakan kano bisa laporkan situasi," kata Putut.
Selain menggunakan kano, polisi siap menyebar anggota berpakaian preman untuk menjaga rumah-rumah penduduk dari kemungkinan terjadinya tindak pidana. Polisi juga akan melaksanakan pelatihan penanggulangan dan pengevakuasian masyarakat yang terkena banjir.

Polda Metro juga bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi (Pemprov), Tim SAR, dan TNI untuk membantu masyarakat yang terkena musibah. Polda Metro menerjunkan 677 personel untuk antisipasi ini, yang terdiri atas Satuan Lalu Lintas 30 personel, Brimob 500, Sabahara 100, Pol air 35, dan dokter kesehatan 12 personel.
admin : DF
www.allyoucanshare.blogspot.com 


Letusan Sinabung Disertai Lava Pijar
TEMPO.CO, Medan-Gunung api Sinabung, Ahad malam, 24 November 2013, kembali mengalami erupsi. Sejumlah warga menyaksikan letusan disertai dengan lava pijar. "Terlihat lava pijar di permukaan kawah Sinabung," kata Yunus Sitepu, 45 tahun.

Yunus saat erupsi terjadi berada di lokasi pengungsian bersama 200 warga dari Desa Kuta Rayat, Kecamatan Naman Teran, Kabupaten Karo, Sumatera Utara. "Letusannya terjadi sekitar jam 8 lewat malam ini," kata Yunus. Dia mengaku menyaksikan lava pijar di permukaan kawah. "Hanya di permukaan kawah. Dan terlihat hanya 8 detik saja," kata Yunus yang mengungsi di jarak tujuh kilometer dari kawah Sinabung. Dia bersama ratusan warga lainnya, mengungsi di Jalan Lintas Karo dan Langkat, Kecamatan Kuta Rayat. "Kami mengungsi di jalan ini, karena kalau ke Kabanjahe jaraknya 27 kilometer. Sedangkan ke Kabupaten Langkat lebih dekat, 18 kilometer," kata Yunus.

Selama Sinabung kembali erupsi, awal November, Yunus mengaku sudah menyaksikan tiga kali letusan Sinabung disertai lava pijar dalam bulan ini. Armen Putra, petugas pos pemantau Sinabung dari Badan Geologi, mengatakan, sejak status Sinabung ditetapkan menjadi Awas, Ahad pukul 10.00 WIB. Letusan terus terjadi. "Hingga malam ini sudah lebih dari 8 kali erupsi," kata Armen. Letusan terakhir, sekitar pukul 8 malam, menurut Armen, tidak terlihat lava pijar. "Tapi letusan itu disertai awan panas (wedhus gembel)," ujar Armen.

Pasca peningkatan status Sinabung menjadi Awas dari Siaga, jumlah pengungsi membludak akibat radius yang diberlakukan bertambah menjadi lima kilometer, serta diungsikannya warga dari 17 desa dan 2 dusun . Informasi yang diperoleh dari petugas media center Sinabung, jumlah pengungsi sudah mencapai 11.618 jiwa.



Usaha yang dilakukan Lembaga Masyarakat
Jakarta - Sejumlah lembaga sudah mulai menyalurkan bantuan untuk para korban letusan Gunung Sinabung di Kabupaten Karo, Sumatera Utara. Ada yang dalam bentuk barang, maupun dukungan personel.

Kabid Humas Pemerintah Kabupaten Karo, Jhonson Tarigan menyatakan, pada hari pertama bencana, Minggu (15/9/2013), ada beberapa lembaga yang sudah datang. "Ada yang memberikan bantuan pangan, maupun bentuk lain. Besok ada beberapa lembaga lagi," kata Jhonson Tarigan kepada wartawan Minggu malam di Posko Penanggulangan Bencana Sinabung di Kabanjahe, Karo.

Di lokasi penampungan pengungsi di Taras, Kecamatan Berastagi, sejumlah personel dari Lembaga Kemanusiaan Nasional PKPU. Selain itu beberapa petugas Telkomsel juga berada di lokasi. Perusahaan telekomunikasi ini menyediakan bantuan telepon gratis.
Bantuan serupa juga diberikan XL. Manager Management Service XL West Region, Firman AJ menyatakan, pihaknya sudah menyiapkan posko di lokasi bencana. "Posko ini dimaksudkan untuk membantu para korban bencana letusan Gunung Sinabung," kata Firman.

Selain itu, posko juga dimaksudkan untuk memantau kondisi jaringan XL pasca bencana. Selain telepon gratis dan bantuan pangan, di posko utama juga tersedia laptop yang sudah terkoneksi internet. Pihak yang berkepentingan, dapat menggunakan sarana yang disediakan Dinas Komunikasi dan Informasi dan PDE Karo ini.

www.allyoucanshare.blogspot.com 

publikasikan oleh admin AN

About Me

Popular Posts