Banjir Jakarta, Tumpukan Masalah Ibu Kota
Warga Jakarta menghadapi musibah besar tatkala banjir melanda
seluruh wilayah Kota Jakarta, dan melumpuhkan segala akses.
Tak hanya layaknya banjir empat hari terakhir yang dialami oleh
beberapa titik, wilayah yang memiliki daya dukung lingkungan lemah, banjir satu
ini terbilang hampir merata. Kawasan Bundaran HI di jantung Jakarta serta
Istana Negara pun tidak luput dari kepungan banjir. Dalam sekejap, status
Jakarta darurat banjir diberlakukan hingga sepuluh hari ke depan.
Hujan turun sejak malam hari beranjak subuh, dengan intensitas yang
tinggi disertai petir. Peringatan dini mulai disampaikan Badan Meteorologi,
Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada pukul 08.00 WIB.
Namun cuaca ekstrem tidak bisa terus disalahkan, menurut sejumlah
pakar di beberapa bidang, banjir Jakarta merupakan gabungan dari faktor cuaca
ekstrem dan lebih-lebih, faktor kompleksitas Jakarta.
Secara geografis, Jakarta adalah kota yang berada di delta dan
rentan terhadap banjir. Ahli hidrologi di Pusat Studi Bencana UGM Yogyakarta
Sudibyakto, menjelaskan, banjir meningkat baik frekuensi maupun intensitasnya
oleh karena kerusakan lingkungan kian parah.
"Kapasitas tampung Sungai Ciliwung sudah terlampaui, akibat
pendangkalan dan adanya penambahan intensitas air permukaan. Sumbangan air
limpasan dari sistem jalan tol juga sangat signifikan. Koefisien aliran di
jalan tol mendekati 90 persen," kata Sudibyakto.
Arsitek dan urban planner Marco Kusumawijaya dari
Rujak Center for Urban Studies (RCUS), mengetengahkan bahwa permasalahan aliran
air di permukaan terus bertambah karena tanah tidak mampu lagi meresapkan air.
"Kami usulkan pendekatan lestari, yaitu perbaikan lahan di
hulu dan hilir, supaya menyerap air lebih banyak. Ketimbang memilih pendekatan
infrastruktur dengan membuat saluran dan kanal," ujarnya.
Kapasitas masyarakat
Di samping itu, aspek budaya masyarakat menjadi satu pekerjaan
rumah lagi yang perlu dibenahi.
Banjir menggenangi kawasan Bundaran HI, Jakarta, Kamis (17/1). Para
pekerja di sekitar lokasi terpaksa dievakuasi menggunakan perahu karet. (Gloria
Samantha/NGI).
Hery Harjono, Direktur Asia Pasific Center for Ecohydrology
(APCE)—perwakilan lembaga untuk UNESCO yang dibiayai pemerintah di bawah LIPI,
yang secara terpisah dijumpaiNational Geographic pada
sebuah kesempatan di Jakarta pada awal minggu ini, menyatakan, "Pembangunan
kapasitas masyarakat di segala lapisan haruslah ditingkatkan untuk
mengurangi risiko bencana banjir."
Hery mengingatkan, persepsi masyarakat
dalam menanggapi bencana kerap menjadi hambatan di lapangan.
Contoh, banyak masyarakat tidak mau mengevakuasi diri bila bencana sudah
terjadi, apalagi pindah dari huniannya yang rata-rata rawan banjir tersebut.
Kalau saja pembangunan kapasitas masyarakat tidak mendukung, maka segala
skenario penanggulangan bencana akan percuma.
Ia juga berpendapat teknologi dan pengetahuan mampu mengatasi
banjir Jakarta, meski tidak mudah dalam jangka waktu pendek. "Sekarang
masalahnya sudah menumpuk jadi satu. Tapi saya yakin bisa direhabilitasi,
diselesaikan, dengan upaya tinggi melalui edukasi yang baik, kebijakan pengelolaan
sumber daya air yang baik."
Masyarakat Jakarta serta-merta diimbau menuju kepada masyarakat
tangguh bencana, yang antisipatif dan adaptif menghadapi bencana. Terutama
banjir yang terus berulang di saat puncak hujan sampai setumpuk masalah dapat
diatasi.
Usaha Antisipasi Banjir
Polda Metro Jaya menyiapkan sejumlah perahu dari jeriken
untuk mengantisipasi kemungkinan banjir pada puncak musim hujan di Jakarta.
Disiapkan pula ratusan kano untuk patroli polisi.
Kapolda Metro Jaya Inspektur Jenderal Putut Eko Bayuseno
mengatakan, persiapan antisipasi banjir oleh polisi sudah hampir selesai. Hari
ini ia mengecek peralatan bantuan untuk membantu masyarakat mengatasi banjir
dan melakukan pertolongan evakuasi.
"Sudah hampir seratus persen siap. Kami siap melakukan
pengamanan dan membantu masyarakat yang kemungkinan terkena banjir,"
ujarnya di Mapolda Metro Jaya.
Pengecekan itu untuk memastikan kondisi perahu karet dan peralatan
pompa air. Selain itu, Polda Metro juga menyiapkan perahu yang terbuat dari
jeriken. Putut mengklaim perahu ini antibocor dan karena ukurannya kecil, maka
dapat masuk ke gang-gang permukiman berukuran kecil.
Selain perahu, Polda Metro juga menyiapkan dua jenis kano. Kano
yang dapat dipakai oleh satu orang berjumlah 115 kano dan kano yang muat tiga
orang sebanyak 105 unit.
"Ini akan kita optimalkan penggunaannya, terutama patroli
daerah banjir. Jadi dua atau tiga anggota gunakan kano bisa laporkan
situasi," kata Putut.
Selain menggunakan kano, polisi siap menyebar anggota berpakaian
preman untuk menjaga rumah-rumah penduduk dari kemungkinan terjadinya tindak
pidana. Polisi juga akan melaksanakan pelatihan penanggulangan dan
pengevakuasian masyarakat yang terkena banjir.
Polda Metro juga bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi (Pemprov),
Tim SAR, dan TNI untuk membantu masyarakat yang terkena musibah. Polda Metro
menerjunkan 677 personel untuk antisipasi ini, yang terdiri atas Satuan Lalu
Lintas 30 personel, Brimob 500, Sabahara 100, Pol air 35, dan dokter kesehatan
12 personel.
admin : DF
0 komentar:
Posting Komentar